Selasa 09 May 2023 06:59 WIB

Bikin Salah Sama Pasangan, Ini Tanda Dia Belum Bisa Memaafkan Anda

Bagaimana Anda tahu bahwa pasangan masih menyimpan amarah?

Rep: Umi Nur Fadhilah/ Red: Qommarria Rostanti
Pasangan sedang bertengkar (ilustrasi). Ada beberapa tanda yang terlihat saat pasangan belum bisa memaafkan kesalahan Anda.
Foto: www.freepik.com.
Pasangan sedang bertengkar (ilustrasi). Ada beberapa tanda yang terlihat saat pasangan belum bisa memaafkan kesalahan Anda.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Melakukan kesalahan baik sengaja maupun tidak, tak dapat dihindari dalam hidup, termasuk dalam hubungan rumah tangga. Ada kalanya pasangan berbuat salah, kemudian meminta maaf. 

Namun terkadang, terhadap kesalahan tertentu, seseorang membutuhkan waktu lebih lama untuk bisa memaafkan. Bagaimana Anda tahu bahwa pasangan masih menyimpan amarah? Berikut lima tanda pasangan Anda belum benar-benar memaafkan, seperti dilansir laman Best Life, Senin (8/5/2023):

Baca Juga

1. Terus mengungkit masalah masa lalu

Menurut seorang psikolog berlisensi yang berbasis di New York City, David Tzall, jika pasangan Anda terus-menerus mengungkit masalah pada masa lalu, kemungkinan itu pertanda bahwa mereka belum benar-benar memaafkan Anda. "Ketika suatu masalah terus diungkit, itu adalah indikator yang jelas bahwa masalah masih menghantui orang lain dan tidak dimaafkan," kata Tzall.

Menurut dia, pasangan mungkin telah menahan amarah dan luka dari masa lalu, yang mencegah mereka untuk bergerak maju. Namun, kondisi ini tidak berarti bahwa mereka tidak akan mampu memaafkan Anda atas masalah tersebut.

Seorang terapis, Jennifer Kelman, menjelaskan pasangan mungkin hanya membutuhkan lebih banyak waktu untuk berkomunikasi tentang berbagai hal, sehingga mereka dapat benar-benar memaafkan dan bergerak maju tanpa menoleh ke masalah yang sama.

2. Bertindak dengan cara pasif-agresif

Tanda utama lainnya bahwa pasangan Anda belum memaafkan adalah perilaku pasif-agresif. Menurut Tzall, Anda mungkin memperhatikan bahwa mereka membuat lebih banyak komentar sinis daripada biasanya, atau terlalu kritis terhadap Anda dengan cara yang tidak biasa.

"Perilaku pasif-agresif menyembunyikan perasaan seseorang yang sebenarnya di balik imajinasi,” ujar Tzall.

Bahkan, jika pasangan Anda secara lisan mengatakan bahwa mereka memaafkan Anda, perilaku ini dapat dengan mudah membuktikan sebaliknya. Kelman mencontohkan Anda mungkin mendapati pasangan menghina di depan orang lain, dan itu mungkin disamarkan sebagai humor.

“Cara berhubungan pasif-agresif ini mungkin menunjukkan bahwa pengampunan belum diberikan,” kata Kelman.

3. Menampilkan perilaku defensif

Pakar keintiman terkemuka di 3Fun, Gigi Engle, mengatakan penting juga untuk berhati-hati terhadap sikap defensif, terutama jika Anda khawatir mereka berbohong tentang memaafkan Anda. Pasangan Anda mungkin menjadi defensif jika Anda memberi tahu mereka bahwa Anda tidak yakin mereka telah memaafkan.

Anda juga dapat melihat sikap defensif ini terjadi di pertengkaran pada masa depan. Pasangan Anda mungkin memanfaatkan konflik masa lalu untuk mempertahankan perilakunya saat masalah lain muncul.

"Setiap argumen atau pertengkaran baru tampaknya membawa semua masalah lama ke dalam ruang ketidaksepakatan baru ini," ujar Kelman.

4. Tidak ramah dengan Anda

Di sisi lain, pasangan Anda bisa melewatkan sikap defensif dan langsung menuju sikap tidak ramah. Menurut Kelman, itu bisa berarti sikap dingin atau sikap diam.

"Jika ada kesulitan berkomunikasi dalam hubungan, maka bisa dikatakan mereka telah memberikan pengampunan hanya untuk 'melanjutkan'," kata Kelman.

Namun, dia mengatakan jika hal-hal tidak didiskusikan dengan cara yang sehat untuk melepaskan semua perasaan Anda, maka seseorang mungkin akan merasa marah dan kesal.

5. Menghindari keintiman

Tentu saja, pasangan Anda bisa berusaha lebih keras untuk menyelamatkan muka dengan tampil ramah. Namun, Anda mungkin mulai memperhatikan sifat mereka yang lebih dingin saat berhubungan dengan momen intim. "Menghindari keintiman, emosional atau fisik, bisa menjadi pertanda bahwa semuanya tidak bisa dimaafkan," ujar Tzall.

Dia menjelaskan, keintiman membutuhkan kerentanan dan kepercayaan. Seseorang tidak mungkin lengah dan menempatkan diri mereka pada posisi untuk disakiti jika mereka masih merasakan “sengatan” dari luka yang sebelumnya.

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement