Sabtu 13 Jan 2024 16:51 WIB

Rekam Jejak 100 Hari Genosida di Gaza dalam Lensa

Sedikitnya 23.600 orang, sebagian besar perempuan dan anak-anak menjadi korban.

Red: Tahta Aidilla

Pengungsi Palestina Muhammad Al-Durra, 41, bermain dengan anak-anaknya di rumah tempat mereka berlindung yang hancur, di kota Rafah, selatan Jalur Gaza, (11/1/2024). (FOTO : EPA-EFE/HAITHAM IMAD)

Unit artileri bergerak Israel menembakkan peluru dari Israel selatan menuju Jalur Gaza, dekat perbatasan Israel-Gaza, Senin, (6/10/2023). (FOTO : AP Photo/Ohad Zwigenberg)

Seorang wanita Palestina berteriak histeris karena serangan udara Israel di kamp pengungsi Khan Younis, Jalur Gaza selatan, Kamis, (7/12/2023). (FOTO : AP Photo/Mohammed Dahman)

Warga Palestina mengungsi ke Gaza utara ketika tank-tank Israel memblokir jalan Salah al-Din di Jalur Gaza tengah pada hari Jumat, (24/11/2023). (FOTO : AP Photo/Mohammed Dahman)

Warga Palestina memeriksa puing-puing Masjid Yassin yang hancur pasca terkena serangan udara Israel di kamp pengungsi Shati di Kota Gaza, Senin dini hari, (9/10/2023) (FOTO : AP Photo/Adel Hana)

Warga Palestina mendoakan jenazah korban pemboman Israel yang dibawa dari Rumah Sakit Shifa sebelum menguburkannya di kuburan massal di kota Khan Younis, Jalur Gaza selatan, Rabu, (22/11/2023). (FOTO : AP Photo/Mohammed Dahman)

Pakaian digantung di kawat saat penduduk kamp pengungsi Al Nusairat dan Al Bureij menunggu untuk dievakuasi menyusul peringatan Israel akan peningkatan operasi militer di kamp-kamp di jalur Gaza, (26/12/2023) (FOTO : EPA-EFE/MOHAMMED SABER)

Warga Palestina mengantri untuk mendapatkan makanan gratis di Rafah, Jalur Gaza, Kamis, (21/12/2023). (FOTO : AP Photo/Fatima Shbair)

Tentara Israel mengambil posisi di dekat perbatasan Jalur Gaza di Israel selatan, Senin, (11/12/2023). (FOTO : AP Photo/Ohad Zwigenberg)

inline

REPUBLIKA.CO.ID,  GAZA. --  Sekitar pukul setengah tujuh pagi pada 7 oktober 2023, sirene pertama berbunyi yang memperingatkan adanya roket yang masuk ke Israel Tengah dan Selatan, kemudian disusul dengan ribuan roket lainnya.

Komandan Militer Hamas Mohammad Deif mengatakan bahwa serangan ke Israel ini merupakan bentuk respons atas blokade yang terjadi di Gaza selama 17 tahun.

Serangan tersebut menjadi  awal dari babak baru konflik Israel dan Palestina yang paling berdarah. Serbuan Israel dan Hamas berbuntut panjang menjadi arena pembantaian warga sipil di Gaza.

Pengeboman besar-besaran, dan invasi darat yang dilancarkan tiga minggu setelah perang, telah menjadikan sebagian besar wilayah Gaza menjadi kota mati, reruntuhan bangunan dan menewaskan sedikitnya 23.600 orang, sebagian besar perempuan dan anak-anak, menurut kementerian kesehatan di Gaza.

Lebih dari 55.000 orang terluka, pada saat sebagian besar rumah sakit di Gaza di bombardir tidak dapat berfungsi atau rusak mengakibatkan pasien membludak dan petugas kesehatan kewalahan menangani korban.

Sebanyak 85 persen dari 2,4 juta penduduk Gaza yang terkepung telah mengungsi, PBB memperingatkan meningkatnya risiko kelaparan dan penyakit ketika keluarga-keluarga yang putus asa berlindung di tenda-tenda darurat untuk melawan dinginnya musim dingin.

Penyerangan dan pembantaian tentara Israel terhadap rakyat Gaza Palestina telah memasuki hari ke-100, tepatnya hari ini Sabtu, 13 Januari 2024.

sumber : EPA, AP Photo
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement