Ahad 28 Jan 2024 10:58 WIB

Soroti Kasus Eksploitasi Monyet, Koalisi Primata Gelar Aksi di HBKB

Mereka meminta monyet ekor panjang dan beruk ditetapkan sebagai satwa dilindungi.

Rep: Thoudy Badai/ Red: Edwin Dwi Putranto

Seniman Pantomim Wanggi Hoed bersama Koalisi Primates Fight Back menggelar aksi teatrikal saat Hari Bebas Kendaraan Bermotor (HBKB) di kawasan Bundaran HI, Jakarta, Ahad (28/1/2024). Aksi tersebut dalam rangkaian Hari Primata Indonesia yang diperingati pada 30 Januari besok dengan mensosialisasikan sekaligus penyadartahuan kepada masyarakat tentang isu eksploitasi monyet. Selain itu, mereka juga menuntut Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan untuk menetapkan monyet ekor panjang dan beruk sebagai satwa dilindungi. (FOTO : Republika/Thoudy Badai)

Seniman Pantomim Wanggi Hoed bersama Koalisi Primates Fight Back menggelar aksi teatrikal saat Hari Bebas Kendaraan Bermotor (HBKB) di kawasan Bundaran HI, Jakarta, Ahad (28/1/2024). Aksi tersebut dalam rangkaian Hari Primata Indonesia yang diperingati pada 30 Januari besok dengan mensosialisasikan sekaligus penyadartahuan kepada masyarakat tentang isu eksploitasi monyet. Selain itu, mereka juga menuntut Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan untuk menetapkan monyet ekor panjang dan beruk sebagai satwa dilindungi. (FOTO : Republika/Thoudy Badai)

Koalisi Primates Fight Back menggelar aksi saat Hari Bebas Kendaraan Bermotor (HBKB) di kawasan Bundaran HI, Jakarta, Ahad (28/1/2024). Aksi tersebut dalam rangkaian Hari Primata Indonesia yang diperingati pada 30 Januari besok dengan mensosialisasikan sekaligus penyadartahuan kepada masyarakat tentang isu eksploitasi monyet. Selain itu, mereka juga menuntut Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan untuk menetapkan monyet ekor panjang dan beruk sebagai satwa dilindungi. (FOTO : Republika/Thoudy Badai)

Seniman Pantomim Wanggi Hoed bersiap menggelar aksi teatrikal bersama Koalisi Primates Fight Back saat Hari Bebas Kendaraan Bermotor (HBKB) di kawasan Bundaran HI, Jakarta, Ahad (28/1/2024). Aksi tersebut dalam rangkaian Hari Primata Indonesia yang diperingati pada 30 Januari besok dengan mensosialisasikan sekaligus penyadartahuan kepada masyarakat tentang isu eksploitasi monyet. Selain itu, mereka juga menuntut Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan untuk menetapkan monyet ekor panjang dan beruk sebagai satwa dilindungi. (FOTO : Republika/Thoudy Badai)

Seniman Pantomim Wanggi Hoed bersama Koalisi Primates Fight Back menggelar aksi teatrikal saat Hari Bebas Kendaraan Bermotor (HBKB) di kawasan Bundaran HI, Jakarta, Ahad (28/1/2024). Aksi tersebut dalam rangkaian Hari Primata Indonesia yang diperingati pada 30 Januari besok dengan mensosialisasikan sekaligus penyadartahuan kepada masyarakat tentang isu eksploitasi monyet. Selain itu, mereka juga menuntut Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan untuk menetapkan monyet ekor panjang dan beruk sebagai satwa dilindungi. (FOTO : Republika/Thoudy Badai)

Seniman Pantomim Wanggi Hoed bersama Koalisi Primates Fight Back menggelar aksi teatrikal saat Hari Bebas Kendaraan Bermotor (HBKB) di kawasan Bundaran HI, Jakarta, Ahad (28/1/2024). Aksi tersebut dalam rangkaian Hari Primata Indonesia yang diperingati pada 30 Januari besok dengan mensosialisasikan sekaligus penyadartahuan kepada masyarakat tentang isu eksploitasi monyet. Selain itu, mereka juga menuntut Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan untuk menetapkan monyet ekor panjang dan beruk sebagai satwa dilindungi. (FOTO : Republika/Thoudy Badai)

Seniman Pantomim Wanggi Hoed bersama Koalisi Primates Fight Back menggelar aksi teatrikal saat Hari Bebas Kendaraan Bermotor (HBKB) di kawasan Bundaran HI, Jakarta, Ahad (28/1/2024). Aksi tersebut dalam rangkaian Hari Primata Indonesia yang diperingati pada 30 Januari besok dengan mensosialisasikan sekaligus penyadartahuan kepada masyarakat tentang isu eksploitasi monyet. Selain itu, mereka juga menuntut Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan untuk menetapkan monyet ekor panjang dan beruk sebagai satwa dilindungi. (FOTO : Republika/Thoudy Badai)

Seniman Pantomim Wanggi Hoed bersama Koalisi Primates Fight Back menggelar aksi teatrikal saat Hari Bebas Kendaraan Bermotor (HBKB) di kawasan Bundaran HI, Jakarta, Ahad (28/1/2024). Aksi tersebut dalam rangkaian Hari Primata Indonesia yang diperingati pada 30 Januari besok dengan mensosialisasikan sekaligus penyadartahuan kepada masyarakat tentang isu eksploitasi monyet. Selain itu, mereka juga menuntut Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan untuk menetapkan monyet ekor panjang dan beruk sebagai satwa dilindungi. (FOTO : Republika/Thoudy Badai)

Petugas Satpol PP mengumumkan batas waktu gelaran aksi dari Koalisi Primates Fight Back saat Hari Bebas Kendaraan Bermotor (HBKB) di kawasan Bundaran HI, Jakarta, Ahad (28/1/2024). Aksi tersebut dalam rangkaian Hari Primata Indonesia yang diperingati pada 30 Januari besok dengan mensosialisasikan sekaligus penyadartahuan kepada masyarakat tentang isu eksploitasi monyet. Selain itu, mereka juga menuntut Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan untuk menetapkan monyet ekor panjang dan beruk sebagai satwa dilindungi. (FOTO : Republika/Thoudy Badai)

Seniman Pantomim Wanggi Hoed bersama Koalisi Primates Fight Back menggelar aksi teatrikal saat Hari Bebas Kendaraan Bermotor (HBKB) di kawasan Bundaran HI, Jakarta, Ahad (28/1/2024). Aksi tersebut dalam rangkaian Hari Primata Indonesia yang diperingati pada 30 Januari besok dengan mensosialisasikan sekaligus penyadartahuan kepada masyarakat tentang isu eksploitasi monyet. Selain itu, mereka juga menuntut Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan untuk menetapkan monyet ekor panjang dan beruk sebagai satwa dilindungi. (FOTO : Republika/Thoudy Badai)

inline

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Koalisi Primates Fight Back menggelar aksi saat Hari Bebas Kendaraan Bermotor (HBKB) di kawasan Bundaran HI, Jakarta, Ahad (28/1/2024).

Aksi tersebut dalam rangkaian Hari Primata Indonesia yang diperingati pada 30 Januari besok dengan mensosialisasikan sekaligus penyadartahuan kepada masyarakat tentang isu eksploitasi monyet. Selain itu, mereka juga menuntut Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan untuk menetapkan monyet ekor panjang dan beruk sebagai satwa dilindungi.

sumber : Republika
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement