Jumat 02 Oct 2026 11:05 WIB

Saat Sampah Dipilah dan Diubah Jadi Bernilai

Waste4Change olah 40 Ton sampah setiap hari.

Rep: Thoudy Badai/ Red: Edwin Dwi Putranto

Pekerja memilah sampah di Rumah Pemulihan Material (RPM) Waste4Change, Bekasi, Jawa Barat, Kamis (1/10/2026). Beragam material yang masuk dipisahkan berdasarkan jenis dan karakteristiknya sebelum menjalani proses pengolahan. Aktivitas di fasilitas ini menjadi salah satu bagian dari upaya mengurangi jumlah sampah yang berakhir di tempat pembuangan akhir. (FOTO : Republika/Thoudy Badai)

Seorang pekerja memeriksa dan memisahkan sampah plastik dari material lainnya di area pemilahan RPM Waste4Change. Plastik menjadi salah satu jenis sampah anorganik yang diproses untuk kemudian disalurkan ke mitra pengolahan dan daur ulang. Pemilahan secara lebih detail diperlukan karena satu jenis material dapat memiliki beberapa kategori yang berbeda. (FOTO : Republika/Thoudy Badai)

Pekerja mengelompokkan berbagai material anorganik seperti kertas, kardus, logam, dan plastik di fasilitas pengolahan Waste4Change. Setelah dipisahkan, material dapat menjalani proses lanjutan seperti pembersihan, pemadatan, atau pencacahan sesuai karakteristiknya sebelum dikirim kepada mitra daur ulang. (FOTO : Republika/Thoudy Badai)

Aktivitas pemilahan berlangsung di antara tumpukan material yang telah dikumpulkan dari berbagai sumber. Waste4Change menerapkan pendekatan pengelolaan sampah dari hulu hingga hilir, termasuk pengumpulan, pemilahan, pengolahan, serta penyaluran material yang masih memiliki nilai guna. Perusahaan tersebut didirikan pada 2014 dan berbasis di Bekasi. (FOTO : Republika/Thoudy Badai)

Sampah organik dipisahkan dari material anorganik untuk mendapatkan penanganan yang berbeda. Sisa makanan dan bahan organik dapat diolah melalui metode pengomposan, sementara Waste4Change juga pernah menerapkan pemanfaatan larva Black Soldier Fly (BSF) atau maggot untuk membantu menguraikan sampah makanan. (FOTO : Republika/Thoudy Badai)

Pekerja melakukan penyortiran lebih rinci terhadap material yang telah terkumpul. Pada tahap ini, sampah tidak sekadar dipisahkan berdasarkan kelompok besar, tetapi juga diperiksa untuk mengurangi kontaminasi seperti sisa makanan, minuman, maupun material yang tidak sesuai. Data mengenai jenis dan volume sampah juga menjadi bagian dari sistem pengelolaan Waste4Change. (FOTO : Republika/Thoudy Badai)

Material yang telah melalui proses pemilahan kemudian dipersiapkan untuk masuk ke tahap pengolahan berikutnya. Teknologi yang dikembangkan di RPM Waste4Change Bekasi sebelumnya dilaporkan mampu meningkatkan kapasitas pengelolaan dari 18 ton menjadi 22 ton per hari serta menurunkan residu dari 65 persen menjadi 10 persen. (FOTO : Republika/Thoudy Badai)

Founder sekaligus CEO Waste4Change Mohamad Bijaksana Junerosano berpose di Rumah Pemulihan Material (RPM) Waste4Change, Bekasi, Jawa Barat, Kamis (1/10/2026). Aktivitas di Rumah Pemulihan Material tidak hanya berbicara tentang lingkungan, tetapi juga membuka ruang ekonomi bagi masyarakat. Material yang masih bernilai dapat kembali masuk ke rantai daur ulang, sementara kegiatan pengumpulan, pemilahan, dan pengolahan menciptakan pekerjaan. (FOTO : Republika/Thoudy Badai)

inline

REPUBLIKA.CO.ID, BEKASI -- Rumah Pemulihan Material (RPM) Waste4Change di Bekasi, Jawa Barat, menjadi tempat berbagai jenis sampah dipilah sebelum kembali dimanfaatkan. Sejak 2014, fasilitas tersebut mengolah sampah anorganik seperti plastik, logam, kertas, dan kardus untuk didaur ulang, sementara sisa makanan diolah menjadi kompos. Dalam sehari, RPM mampu mengolah hingga 40 ton sampah.

Pemilahan tidak hanya membantu mengurangi sampah yang berakhir di tempat pembuangan akhir, tetapi juga membuka peluang ekonomi bagi masyarakat. Di balik aktivitas memilah dan mengolah sampah, terdapat pekerjaan yang ikut menggerakkan ekonomi sekaligus menjadi bagian dari upaya membangun kebiasaan pengelolaan sampah yang lebih bertanggung jawab.

sumber : Republika
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
Advertisement