REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Hari Batik Nasional 2026 dirayakan dengan beragam kegiatan di sejumlah daerah. Dari belajar merangkai potongan kain, mewarnai motif, hingga mencoba membatik menggunakan canting, masyarakat diajak mengenal batik bukan sekadar sebagai kain bermotif, tetapi sebagai warisan budaya yang terus hidup dan berkembang.
Di Taman Indonesia Kaya, Semarang, Jawa Tengah, warga mengikuti kegiatan belajar merangkai batik dengan menempelkan potongan-potongan kain. Kegiatan di ruang publik tersebut menjadi cara untuk mendekatkan batik kepada masyarakat, terutama generasi muda, sekaligus mengenalkan proses kreatif di balik sebuah karya batik.
Semangat serupa terlihat di Madrasah Tsanawiyah Swasta (MTsS) Harapan Bangsa, Desa Kuta Padang, Johan Pahlawan, Aceh Barat, Aceh. Sebanyak 563 siswa mengikuti lomba kreasi mewarnai batik. Kegiatan tersebut memberi ruang bagi para siswa untuk mengenal motif batik melalui aktivitas yang dekat dengan dunia mereka, yakni bermain warna dan berkreasi.
Di Jakarta, jejak batik dari sejumlah daerah diperkenalkan melalui pameran “Jejak Keindahan: Batik Kudus, Demak, dan Banyumas” di Museum Tekstil. Sebanyak 60 kain dipamerkan, terdiri atas tiga batik Demak, 15 batik Kudus, dan 42 batik Banyumas. Pameran tersebut berlangsung hingga 2 November 2026, memberikan kesempatan bagi pengunjung untuk melihat keberagaman corak dan karakter batik dari tiga wilayah tersebut.
Sementara itu, suasana berbeda hadir di Stasiun Surabaya Gubeng, Surabaya, Jawa Timur. Para penumpang diajak mencoba membatik secara langsung menggunakan canting dalam kegiatan yang digelar PT Kereta Api Indonesia (Persero) Daerah Operasi 8 Surabaya. Di tengah aktivitas perjalanan, membatik menjadi pengalaman singkat yang mempertemukan masyarakat dengan salah satu tradisi budaya Indonesia.
Batik juga hadir dalam perayaan yang melibatkan kelompok usia lanjut. Di kawasan Ngarsopuro, Solo, Jawa Tengah, sejumlah lansia mengenakan busana batik dan mengikuti peragaan busana. Kehadiran mereka menunjukkan bahwa batik dapat dikenakan dan dirayakan lintas generasi, sekaligus menjadi bagian dari aktivitas masyarakat sehari-hari.
Di Museum Batik Pekalongan, Kota Pekalongan, peringatan Hari Batik Nasional ditandai dengan apel yang diikuti ASN, pelaku UMKM batik, dan pelajar. Para peserta mengenakan sarung batik dan kebaya. Tidak hanya menjaga tradisi berbusana, kegiatan tersebut juga mengingatkan bahwa batik memiliki hubungan erat dengan kehidupan para perajin, pelaku usaha, hingga ekonomi kreatif di berbagai daerah.
Beragam perayaan tersebut memperlihatkan bahwa menjaga batik tidak selalu harus dilakukan melalui kegiatan besar. Belajar membuatnya, mengenali motifnya, mengenakannya, hingga memperkenalkannya kepada anak-anak merupakan cara sederhana untuk membuat batik tetap dekat dengan kehidupan. Di tengah perubahan zaman, warisan budaya itu terus menemukan ruangnya di tangan generasi yang berbeda.