103 Siswa SMPN 2 Cisarua Diduga Keracunan MBG, Operasional Dapur Disetop 20 Hari
Para siswa mengalami gejala seperti mual, pusing, sakit perut, hingga muntah.
Red: Edwin Dwi Putranto
Sejumlah siswa SMPN 2 Cisarua antre mendapatkan obat setelah diduga mengalami keracunan usai mengonsumsi makanan dan minuman dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) di SMP Negeri 2 Cisarua, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Rabu (21/10/2026). Sebanyak 103 siswa dilaporkan mengalami gejala seperti mual, pusing, sakit perut, hingga muntah dan membutuhkan penanganan medis. (FOTO : ANTARA FOTO/Arif Firmansyah)
Sejumlah siswa mendapatkan perawatan medis setelah mengalami gejala gangguan kesehatan yang diduga berkaitan dengan konsumsi MBG di SMPN 2 Cisarua, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Rabu (21/10/2026). Sebagian siswa sempat dibawa ke Puskesmas Leuwimalang sebelum dirujuk ke Rumah Sakit Paru dr. M. Goenawan Partowidigdo (RSPG) Cisarua untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut. (FOTO : ANTARA FOTO/Arif Firmansyah)
Siswa SMPN 2 Cisarua antre mendapatkan obat di Instalasi Rawat Jalan RS Goenawan Partowidigdo, Cisarua, Bogor, Jawa Barat, Rabu (21/10/2026). Bupati Bogor Rudy Susmanto mengatakan berdasarkan data sementara tercatat sebanyak 103 orang siswa SMPN 2 Cisarua, Bogor diduga mengalami gejala keracunan dan tim dari Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor sudah mengambil sampel makanan dan minuman yang sempat disantap oleh para korban untuk diteliti. (FOTO : ANTARA FOTO/Arif Firmansyah)
Operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang memasok makanan ke SMPN 2 Cisarua, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, dihentikan sementara selama 20 hari untuk evaluasi setelah 103 siswa dilaporkan mengalami gejala diduga keracunan MBG. Penghentian dilakukan sambil menunggu hasil pemeriksaan laboratorium dan evaluasi keamanan pangan. (FOTO : ANTARA FOTO/Arif Firmansyah)
inline
REPUBLIKA.CO.ID, BOGOR -- Sebanyak 103 siswa SMP Negeri 2 Cisarua, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, diduga mengalami keracunan setelah mengonsumsi makanan dan minuman dari program Makan Bergizi Gratis (MBG), Rabu (21/10/2026). Para siswa mengalami gejala seperti mual, pusing, sakit perut, hingga muntah dan harus mendapatkan penanganan medis. Sampel makanan dan minuman yang dikonsumsi siswa telah diambil untuk pemeriksaan lebih lanjut guna mengetahui penyebab kejadian tersebut.
Sebagai tindak lanjut, operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang memasok makanan ke sekolah tersebut dihentikan sementara selama 20 hari untuk evaluasi. Sementara itu, pemerintah daerah memastikan biaya pengobatan siswa yang terdampak ditanggung pemerintah. Kasus ini kembali menyoroti pentingnya pengawasan keamanan pangan, mulai dari pemilihan bahan baku hingga proses pengolahan dan distribusi makanan dalam program MBG.
sumber : Antara Foto