REPUBLIKA.CO.ID, POSO -- Meski langgeng hingga kini, kearifan mengelola peternakan leluhur itu bukan tanpa masalah.
Persoalan bibit atau anakan kerbau dan sapi sering menjadi ganjalan utama. Angka fertilitas atau kelahiran hewan ternak di peternakan itu terbilang sangat rendah. Bagaimana tidak, jumlah ternak pejantan terhadap terhadap betina rasionya hanya 1:12, padahal idealnya adalah 1:5.
Perangkat Desa Winowanga pun berusaha turun tangan, namun keterbatasan dalam banyak hal tidak memberi solusi siginifikan bagi keberlanjutan peternakan leluhur itu.
“Sudah beberapa kali kami memohon kepada dinas terkait, namun hingga kini belum ada realisasinya,” ungkap Alpius Rangka, Kepala Desa Winowanga.
Dan kini, satu-satunya peternakan leluhur bernilai historis yang selalu mengundang decak kagum setiap pengunjung itu sedang “megap-megap” menjalani kehidupannya.
Kerbau dan sapi-sapi beserta penggembala dan tetua adatnya sedang “tertatih-tatih” melanggengkan cerita peradaban di daerah itu.