Mahasiswa asal Assam India mengenakan ikat kepala saat berunjukrasa menolak Citizenship (Amendment) Bill (CAB) di Bangalore, India. (FOTO : Jagadeesh/EPA EFE)
Massa penentang Revisi UU Kewarganegaraan India (Citizenship Amendmen Bill (CAB) berunjukrasa di Bangalore, India. (FOTO : Jagadeesh/EPA EFE)
Sebuah bus dibakar pada aksi unjukrasa menentang Revisi UU Kewarganegaraan India di New Delhi, India. (FOTO : STR/EPA EFE)
Sekelompok penyandang tuna netra berunjukrasa menolak Citizenship (Amendment) Bill (CAB) di Guwahati,India. (FOTO : STR/EPA EFE)
Polisi mengejar pengunjuk rasa penentang Revisi UU Kewarganegaraan India di New Delhi, India, Ahad (15/12) (FOTO : Adnan Abidi/Reuters)
Massa berunjukrasa penentang Revisi UU Kewarganegaraan barumelarikan diri dari tembakan gas air mata polisi India di New Delhi, India, Ahad (15/12) (FOTO : Adnan Abidi/Reuters)
Pengunjukrasa penentang Revisi UU Kewarganegaraan India membawa poster menentang UU baru di Ahmadabad, India, Ahad (15/12) (FOTO : Ajit Solanki?AP)
inline
REPUBLIKA.CO.ID, KOLKATA -- Protes terhadap Undang-Udang (UU) Kewarganegaraan baru India berlanjut selama empat hari berturut-turut. Pada Sabtu (14/12), demonstran di India timur membakar belasan bus dan merusak setidaknya enam stasiun kereta api.
Pemerintah Perdana Menteri Narendra Modi mengatakan undang-undang baru itu dibuat untuk menyelamatkan minoritas agama seperti Hindu dan Kristen dari penganiayaan di negara tetangga seperti Bangladesh, Pakistan dan Afghanistan. Yakni dengan menawarkan mereka untuk menuju warga negara India. Namun, aturan terbaru itu tidak memuat ketentuan yang sama untuk Muslim.
sumber : Republika, Reuters, EPA, AP