Mbah Ginem (70) berjualan serabi di depan rumahnya di Telukan, Sukoharjo, Jawa Tengah, Rabu (2/9). (FOTO : Wihdan Hidayat / Republika)
Mbah Ginem mulai berjualan dari pukul 17:30 sore saat malam menjelang, pembeli pun mulai berdatangan. (FOTO : Wihdan Hidayat / Republika)
Pelanggan menunggu pesanan serabi Mbah Ginem. Mbah Ginem menjual serabi buatannya dengan harga Rp 2 ribu per buah. (FOTO : Wihdan Hidayat / Republika)
Nenek 12 cucu ini berjualan serabi selain mengisi kegiatan sehari-hari juga untuk membantu usaha anaknya yang terimbas pandemi. (FOTO : Wihdan Hidayat / Republika)
Serabi manis dan ditambahi taburan kelapa sebagai penambah rasa dibakar di atas tungku dan kayu bakar. (FOTO : Wihdan Hidayat / Republika)
inline
REPUBLIKA.CO.ID, SUKOHARJO -- Serabi merupakan makanan tradisional yang telah dikenal masyarakat Indonesia sejak lama. Alat masak cetakan serabi berbahan tembikar dan menggunakan kayu bakar menambah suasan tradisional.
Satu lagi, penjualnya biasanya wanita yang telah sepuh menjadi label pelengkap stereotip makanan tradisional ini. Di Sukoharjo Jawa Tengah, semua ciri khas tadi termaktub pada penjual serabi bernama Mbah Ginem (70) di depan rumahnya di Sukoharjo, Jawa Tengah.
Di usianya yang senja, Mbah Ginem tetap berjualan. Selain untuk mengisi kegiatan, juga untuk membantu usaha warung anaknya yang tutup terimbas pandemi.
sumber : Republika