Ahad 15 Jan 2023 16:23 WIB

Konservasi Berbasis Masyarakat di Tangkahan Mendapat Pengakuan Internasional

Tangkahan merupakan ekowisata di dalam Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL)..

Red: Mohamad Amin Madani

CEO Global Environment Facility (GEF), Carlos Manuel Rodriguez, saat mengunjungi Tangkahan, di Kecamatan Batang Serangan, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara, Jumat (13/1). (FOTO : dok. Kementerian LHK)

CEO Global Environment Facility (GEF), Carlos Manuel Rodriguez, saat mengunjungi Tangkahan, di Kecamatan Batang Serangan, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara, Jumat (13/1). (FOTO : dok. Kementerian LHK)

CEO Global Environment Facility (GEF), Carlos Manuel Rodriguez, saat mengunjungi Tangkahan, di Kecamatan Batang Serangan, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara, Jumat (13/1). (FOTO : dok. Kementerian LHK)

CEO Global Environment Facility (GEF), Carlos Manuel Rodriguez, saat mengunjungi Tangkahan, di Kecamatan Batang Serangan, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara, Jumat (13/1). (FOTO : dok. Kementerian LHK)

CEO Global Environment Facility (GEF), Carlos Manuel Rodriguez, saat mengunjungi Tangkahan, di Kecamatan Batang Serangan, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara, Jumat (13/1). (FOTO : dok. Kementerian LHK)

CEO Global Environment Facility (GEF), Carlos Manuel Rodriguez, saat mengunjungi Tangkahan, di Kecamatan Batang Serangan, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara, Jumat (13/1). (FOTO : dok. Kementerian LHK)

inline

REPUBLIKA.CO.ID,LANGKAT -- Tangkahan merupakan ekowisata di dalam Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL). Selain dikenal dengan konservasi gajah, Tangkahan juga lekat akan konservasi berbasis masyarakat.

"Saya menyampaikan apresiasi kepada masyarakat di Tangkahan atas upayanya dalam menjaga Taman Nasional," ujar CEO Global Environment Facility (GEF), Carlos Manuel Rodriguez, saat mengunjungi Tangkahan, di Kecamatan Batang Serangan, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara, Jumat (13/1). 

Salah satu agenda dalam kunjungan tersebut adalah melakukan pertemuan dan diskusi dengan komunitas lokal Lembaga Pariwisata Tangkahan (LPT), pemerintah Desa Namo Sialang dan Sei Serdang, Balai Besar KSDA Sumatera Utara, serta para mitra Balai Besar TNGL, yaitu CRU Tangkahan, Ganesha dan Conserve Project. 

"Saya juga berterima kasih kepada Pemerintah Indonesia karena sudah melakukan upaya yang sangat besar, khususnya melibatkan masyarakat dalam pengelolaan kawasan konservasi," kata Carlos.

GEF merupakan mekanisme pendanaan yang dibentuk sejak tahun 1991 untuk menggalang kerjasama internasional dalam mengatasi ancaman lingkungan global. Saat ini, GEF telah mendukung upaya konservasi di 150 negara, dan Indonesia merupakan negara yang mendapat alokasi terbesar setelah China dan Brazil.

Pada pertemuan tersebut, Kepala Balai Besar TNGL U. Mamat Rahmat menyambut baik pendekatan perencanaan GEF dan berharap dapat diterapkan di Tangkahan. Dirinya mengajak LPT dan seluruh mitra untuk terus melanjutkan dan mengembangkan kegiatan wisata alam berbasis konservasi di Tangkahan.

Di sela-sela pertemuan, terdapat fakta unik yang menjawab rasa penasaran warga Tangkahan. Nama seekor anak gajah yang lahir pada tanggal 17/11/2021 lalu di Tangkahan, namanya diberikan oleh Menteri LHK Siti Nurbaya, ternyata diambil dari nama CEO GEF saat ini, yang ternyata pernah juga menjabat sebagai Menteri Lingkungan Hidup dan Energi negara Costa Rica. Ya, anak gajah itu juga bernama "Carlos".

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement