Rabu 17 Dec 2025 15:35 WIB

Dari Balik Dapur MBG, Mereka Menggantungkan Harapan Hidup

Keberadaan Dapur SPPG membuka lowongan pekerjaan bagi warga.

Rep: Thoudy Badai/ Red: Edwin Dwi Putranto

Teti (42) bersama rekan kerja berdoa sebelum memulai aktivitas di dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Sumedang Cimanggung Mangunarga, Sumedang, Jawa Barat, Rabu (17/12/2025). Keberadaan dapur SPPG membantu Teti dan rekan pekerja lainnya memperoleh pekerjaan untuk menopang perekonomian keluarga. (FOTO : Republika/Thoudy Badai)

Sebelum bekerja di dapur SPPG, Teti merupakan ibu rumah tangga yang bekerja serabutan di lingkungannya. Kondisi kesehatan suaminya yang didiagnosis memiliki sakit jantung membuatnya harus putar otak untuk memenuhi kebutuhan hidup suami dan sembilan anaknya. (FOTO : Republika/Thoudy Badai)

Meski beban punggungnya semakin berat, tak sedikitpun membuat dirinya patah arang. Sudah hampir dua bulan Teti bekerja dari larut malam hingga fajar di dapur SPPG Sumedang Cimanggung Mangunraga, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat. (FOTO : Republika/Thoudy Badai)

Ada 43 pekerja yang bekerja di dapur SPPG Sumedang Cimanggung Mangunraga. Sebelum menjalani pekerjaan sebagai petugas dapur SPPG, mereka menjalani proses pelatihan khusus terlebih dahulu dari staf ahli. (FOTO : Republika/Thoudy Badai)

Untuk menjaga kualitas makanan terjaga, setiap makanan yang dibuat oleh pekerja dapur SPPG akan melalui proses pengecekan dan ditentukan oleh ahli gizi. (FOTO : Republika/Thoudy Badai)

Dalam sehari Teti dan rekan lainnya di dapur SPPG Sumedang Cimanggung Mangunraga menyiapkan sebanyak 2.500 porsi dengan realisasi 2.000 penerima dari kelompok pendidikan sekolah dan 500 bagi kelompok 3B (Bumil, Busui dan Balita). Cakupan distribusi untuk sekolah meliputi 5 sekolah TK sederajat, 4 Sekolah Dasar sederajat, 2 SMP dan 1 SMA dan kelompok 3 B di wilayah Kecamatan Cimanggung, Sumedang, Jawa Barat. (FOTO : Republika/Thoudy Badai)

Memikul beban tanggung jawab besar atas kesehatan para siswa, Teti dan rekan lainnya bekerja dengan penuh kehati-hatian, sebagaimana ia menyajikan hidangan sarapan untuk sang buah hati di rumahnya. (FOTO : Republika/Thoudy Badai)

Masakan yang dihasilkan di dapur SPPG harus mencakup menu protein hewani, protein nabati, sayur, buah dan karbo hidrat, serta susu, telor dan gandum untuk weekend. (FOTO : Republika/Thoudy Badai)

Dapur SPPG Sumedang Cimanggung Mangunraga menjaga dengan ketat setiap proses pembuatan masakan untuk program MBG. Mulai dari pemilihan bahan baku, proses memasak, pengepakan, hingga distribusi. Semua dilakukan dibawah pengawasan staf ahli. (FOTO : Republika/Thoudy Badai)

Hal ini tak lain untuk memberikan hasil masakan terbaik yang akan disajikan untuk penerima manfaat MBG. (FOTO : Republika/Thoudy Badai)

Untuk menjadi pekerja dapur SPPG ada sejumlah persyaratan yang harus dipenuhi, seperti domisili sekitar dapur, pengalaman kerja di bidang Food and Beverage serta mengikuti proses training sebelumnya yang terdiri dari warga lokal dan staf ahli. (FOTO : Republika/Thoudy Badai)

Pekerja dapur SPPG Andika (17) mengatakan, ia merasa dimudahkan dengan adanya dapur MBG di lingkungannya. Andika memilih membantu ekonomi keluarga terlebih dahulu, sebelum melanjutkan ke jenjang pendidikan tinggi. (FOTO : Republika/Thoudy Badai)

Dapur SPPG menjadi salah satu titik penting penggerak ekonomi warga. Keberadaan dapur SPPG memberikan dampak ekonomi nyata pada masyarakat sekitar. (FOTO : Republika/Thoudy Badai)

Keberadaan dapur SPPG bagi sebagian orang adalah salah satu jawaban dari doa-doa yang terkabul di tengah kesulitan. Ada banyak Teti dan Andika lain yang merasa hidupnya jauh lebih baik dari kepulan asap di Dapur SPPG. (FOTO : Republika/Thoudy Badai)

inline

REPUBLIKA.CO.ID, SUMEDANG -- Di tengah riuh suara hujan yang jatuh di atap seng, Teti (42) bergegas menyiapkan perlengkapannya untuk bekerja. Ia menjadi salah satu warga yang terpilih untuk bekerja di dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di wilayahnya.

Sebelumnya, Teti merupakan ibu rumah tangga dengan kerja serabutan di lingkungannya. Namun, saat suaminya didiagnosis memilik sakit jantung. Ia kini berganti tugas menjadi tulang punggung keluarga untuk memenuhi kebutuhan hidup suami dan sembilan anaknya.

Baca Juga

Meski beban punggungnya semakin berat, tak sedikitpun membuat ia patah arang. Sudah hampir dua bulan ia bekerja dari larut malam hingga fajar di dapur SPPG Sumedang Cimanggung Mangunraga, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat. Teti bersama puluhan tim lainnya dengan teliti menyiapkan hampir 2.500 porsi Makanan Bergizi Gratis (MBG) per hari.

Memikul beban tanggung jawab besar atas kesehatan para siswa, Teti dan rekan lainnya bekerja dengan penuh kehati-hatian, sebagaimana ia menyajikan hidangan sarapan untuk sang buah hati di rumahnya.

"Bersyukur sekali saya bisa kerja di dapur di usia saat ini, bisa bantu ekonomi keluarga, buat obat suami sama dapur saya bisa tetep ngebul juga" ungkap teti.

Sementara, Andika (17) merasa dimudahkan dengan adanya dapur MBG di lingkungannya. Ia memilih membantu ekonomi keluarga terlebih dahulu, sebelum melanjutkan ke jenjang pendidikan tinggi.

"Dari hasil kerja saya di dapur, saya jadi bisa nabung buat masa depan dan ngasih ke orang tua di rumah" ujarnya.

Keberadaan dapur SPPG bagi sebagian orang adalah salah satu jawaban dari doa-doa yang terkabul di tengah kesulitan. Ada banyak Teti dan Andika lain yang merasa hidupnya jauh lebih baik dari kepulan asap di Dapur SPPG.

sumber : Republika
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement