Nelayan memotong sirip hiu martil di pasar ikan tradisional di Banda Aceh, Indonesia, Rabu (29/4/2026). Populasi hiu martil dilaporkan masih berada dalam kondisi kritis hingga saat ini. Sejumlah penelitian terbaru menunjukkan spesies ini belum mengalami pemulihan signifikan. Secara global, penurunan populasi hiu martil telah terjadi secara drastis dalam beberapa dekade terakhir. Dalam kajian konservasi oleh International Union for Conservation of Nature, spesies ini berstatus Kritis (Critically Endangered) dengan tren populasi terus menurun. (FOTO : EPA/HOTLI SIMANJUNTAK)
Populasi hiu martil telah mengalami penurunan lebih dari 80 persen secara global akibat penangkapan berlebih dan perdagangan sirip hiu. Hiu martil memiliki laju reproduksi yang lambat, yakni hanya berkembang biak setiap 2–3 tahun. Kondisi ini menyebabkan spesies tersebut sangat rentan terhadap eksploitasi dan sulit pulih. (FOTO : EPA/HOTLI SIMANJUNTAK)
Ikan hiu martil terlihat diperdagangkan di pasar ikan tradisional di Banda Aceh, Indonesia, Rabu (29/4/2026). Para peneliti menegaskan bahwa eksploitasi berlebihan, tangkapan sampingan (bycatch), serta kerusakan habitat pesisir menjadi faktor utama menurunnya populasi hiu martil. Jika kondisi ini terus berlanjut, maka spesies ini berisiko mengalami kepunahan di alam liar. (FOTO : EPA/HOTLI SIMANJUNTAK)
Nelayan memotong sirip hiu martil di pasar ikan tradisional di Banda Aceh, Indonesia, Rabu (29/4/2026). Sebagai predator puncak, hiu martil memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem laut. Hilangnya spesies ini dapat memicu ketidakseimbangan rantai makanan dan berdampak luas terhadap kesehatan laut. (FOTO : EPA/HOTLI SIMANJUNTAK)
Pemerintah Indonesia telah mengatur pemanfaatan hiu martil melalui pembatasan perdagangan dan pengawasan penangkapan. Namun, upaya tersebut perlu diperkuat melalui peningkatan kesadaran masyarakat dan nelayan. (FOTO : EPA/HOTLI SIMANJUNTAK)
Ikan hiu terlihat diperdagangkan di pasar ikan tradisional di Banda Aceh, Indonesia, Rabu (29/4/2026). Masyarakat diimbau untuk tidak menangkap hiu martil, serta segera melepaskannya kembali ke laut jika tertangkap secara tidak sengaja. Langkah ini dinilai penting untuk menjaga keberlangsungan spesies yang kini berada di ambang kepunahan. (FOTO : EPA/HOTLI SIMANJUNTAK)
inline
REPUBLIKA.CO.ID, ACEH -- Nelayan memotong sirip hiu martil di pasar ikan tradisional di Banda Aceh, Indonesia, Rabu (29/4/2026). Populasi hiu martil dilaporkan masih berada dalam kondisi kritis hingga saat ini.
Sejumlah penelitian terbaru menunjukkan spesies ini belum mengalami pemulihan signifikan. Secara global, penurunan populasi hiu martil telah terjadi secara drastis dalam beberapa dekade terakhir. Dalam kajian konservasi oleh International Union for Conservation of Nature, spesies ini berstatus Kritis (Critically Endangered) dengan tren populasi terus menurun.
Populasi hiu martil telah mengalami penurunan lebih dari 80 persen secara global akibat penangkapan berlebih dan perdagangan sirip hiu. Hiu martil memiliki laju reproduksi yang lambat, yakni hanya berkembang biak setiap 2–3 tahun. Kondisi ini menyebabkan spesies tersebut sangat rentan terhadap eksploitasi dan sulit pulih.
Para peneliti menegaskan bahwa eksploitasi berlebihan, tangkapan sampingan (bycatch), serta kerusakan habitat pesisir menjadi faktor utama menurunnya populasi hiu martil. Jika kondisi ini terus berlanjut, maka spesies ini berisiko mengalami kepunahan di alam liar.
Sebagai predator puncak, hiu martil memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem laut. Hilangnya spesies ini dapat memicu ketidakseimbangan rantai makanan dan berdampak luas terhadap kesehatan laut.
Pemerintah Indonesia telah mengatur pemanfaatan hiu martil melalui pembatasan perdagangan dan pengawasan penangkapan. Namun, upaya tersebut perlu diperkuat melalui peningkatan kesadaran masyarakat dan nelayan. Masyarakat diimbau untuk tidak menangkap hiu martil, serta segera melepaskannya kembali ke laut jika tertangkap secara tidak sengaja. Langkah ini dinilai penting untuk menjaga keberlangsungan spesies yang kini berada di ambang kepunahan.
sumber : EPA