Hamparan sawah hijau membentang di antara perbukitan, sementara tebing-tebing tinggi berdiri kokoh mengapit lembah. Di kejauhan, aliran sungai berkelok mengikuti dasar ngarai. Pemandangan alam seperti inilah yang menyambut pengunjung di kawasan Geopark Ngarai Sianok, Bukittinggi, Sumatera Barat, Sabtu (31/11/2026.. (FOTO : ANTARA FOTO/Fitra Yogi)
Di tengah suasana yang asri, warga dan wisatawan dapat menikmati kawasan tersebut dengan berjalan menyusuri jalan setapak di antara persawahan. Udara sejuk khas dataran tinggi serta panorama lembah yang luas menghadirkan pengalaman berbeda dari wisata perkotaan. Keindahan alam Ngarai Sianok tidak hanya menjadi daya tarik untuk berfoto, tetapi juga menawarkan kesempatan untuk lebih dekat dengan kehidupan masyarakat dan alam sekitarnya. (FOTO : ANTARA FOTO/Fitra Yogi)
Kawasan ini dikembangkan sebagai wisata berbasis alam dan pertanian atau eduwisata melalui kolaborasi Kelompok Tani (Poktan) Ngarai Saiyo dan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Kayu Kubu. Pengembangan agrowisata ini juga membuka ruang bagi masyarakat untuk terlibat langsung dalam kegiatan pariwisata. Kelompok tani berperan dalam menghadirkan pengalaman pertanian, sementara kelompok sadar wisata membantu mengemas potensi alam dan kehidupan lokal menjadi daya tarik bagi pengunjung. (FOTO : ANTARA FOTO/Fitra Yogi)
inline
BUKITTINGGI -- Hamparan sawah hijau membentang di antara perbukitan, sementara tebing-tebing tinggi berdiri kokoh mengapit lembah. Di kejauhan, aliran sungai berkelok mengikuti dasar ngarai. Pemandangan alam seperti inilah yang menyambut pengunjung di kawasan Geopark Ngarai Sianok, Bukittinggi, Sumatera Barat.
Di tengah suasana yang asri, warga dan wisatawan dapat menikmati kawasan tersebut dengan berjalan menyusuri jalan setapak di antara persawahan. Udara sejuk khas dataran tinggi serta panorama lembah yang luas menghadirkan pengalaman berbeda dari wisata perkotaan. Keindahan alam Ngarai Sianok tidak hanya menjadi daya tarik untuk berfoto, tetapi juga menawarkan kesempatan untuk lebih dekat dengan kehidupan masyarakat dan alam sekitarnya.
Kawasan ini dikembangkan sebagai wisata berbasis alam dan pertanian atau eduwisata melalui kolaborasi Kelompok Tani (Poktan) Ngarai Saiyo dan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Kayu Kubu. Pengembangan agrowisata ini juga membuka ruang bagi masyarakat untuk terlibat langsung dalam kegiatan pariwisata. Kelompok tani berperan dalam menghadirkan pengalaman pertanian, sementara kelompok sadar wisata membantu mengemas potensi alam dan kehidupan lokal menjadi daya tarik bagi pengunjung.
sumber : Antara Foto