Pekerja mengambil bahan baku batubara yang sudah dipilah di lingkungan balai pengembangan perindustrian sub unit pengembangan IKM logam, Gedebage, Kota Bandung, Kamis (6/8). (foto : Septianjar Muharam)
Pekerja menunggu briket batubara yang sudah jadi untuk didinginkan di lingkungan balai pengembangan perindustrian sub unit pengembangan IKM logam, Gedebage, Kota Bandung, Kamis (6/8). (foto : Septianjar Muharam)
Dua pekerja memilah batubara untuk membuat briket batubara di lingkungan balai pengembangan perindustrian sub unit pengembangan IKM logam, Gedebage, Kota Bandung, Kamis (6/8). (foto : Septianjar Muharam)
Dua pekerja memilah batubara untuk membuat briket batubara di lingkungan balai pengembangan perindustrian sub unit pengembangan IKM logam, Gedebage, Kota Bandung, Kamis (6/8). (foto : Septianjar Muharam)
Pekerja mewadahi briket batubara yang sudah di cetak di lingkungan balai pengembangan perindustrian sub unit pengembangan IKM logam, Gedebage, Kota Bandung, Kamis (6/8). (foto : Septianjar Muharam)
Pekerja mengambil briket batubara yang sudah dicetak di lingkungan balai pengembangan perindustrian sub unit pengembangan IKM logam, Gedebage, Kota Bandung, Kamis (6/8). (foto : Septianjar Muharam)
Pekerja mengemas briket batubara yang akan didistibusi di lingkungan balai pengembangan perindustrian sub unit pengembangan IKM logam, Gedebage, Kota Bandung, Kamis (6/8). (foto : Septianjar Muharam)
Pekerja mengangkut karung berisi briket batubara yang akan di distribusi di lingkungan balai pengembangan perindustrian sub unit pengembangan IKM logam, Gedebage, Kota Bandung, Kamis (6/8). (foto : Septianjar Muharam)
inline
REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG -- Bahan bakar dengan menggunakan briket batu bara, saat ini mulai diminati industri kecil seperti pengusaha tahu dan ayam. Dengan jumlah permintaan yang terus meningkat, hingga mencapai 50 persen setiap bulannya. Briket batu bara dipilih menjadi alternatif sumber energi, karena dinilai lebih efisien dan murah, dijual dengan harga Rp 1450 per kilogramnya.