Selasa 23 Apr 2019 06:38 WIB

Daging Ulama Diibaratkan Beracun?

Ibnu Asakir mengingatkan tentang perumpamaan daging ulama beracun.

Foto: Republika/mgrol100
(Ilustrasi) Pengibaratan daging ulama itu beracun

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Siapapun hendaknya memiliki adab, apalagi kepada ulama. Rasulullah SAW tidak mewariskan selain Alquran dan Sunnah. Beliau shalallahu 'alaihi wasallam sendiri menegaskan, ulama adalah pewaris para nabi. Kriteria ulama yang ideal, yakni takut kepada Allah dengan ilmunya dan ikhlas melanjutkan risalah kenabian.

Tiga hal ini patut menjadi pertimbangan dalam menunjukkan adab kepada mereka.

Baca Juga

-1. Daging Ulama Beracun

Nasihat Ibnu Asakir, “Saudaraku, ketahuilah bahwa daging para ulama itu beracun.” Maksudnya, siapapun yang memfitnah ulama hendaknya takut bernasib buruk. Surah al-Hujurat ayat 12 mengibaratkan perbuatan menggunjing sebagai “memakan daging saudara yang telah mati.” Maka pelaku fitnah terhadap ulama tak hanya “memakan bangkai”, tetapi juga terkena racun.

-2. Jangan di Publik

Bagaimana bila ada ulama keliru? Imam Syafii berpesan, “Berilah nasihat kepadaku saat aku sendiri. Hindari memberi nasihat di tengah keramaian. (Menasihati) di tengah khalayak terasa hinaan yang membuat hatiku pedih dan koyak. Maka maafkan jika hatiku tidak menuruti.”

-3. Tidak Memusuhi

Dalam hadis qudsi disebutkan, “Sesungguhnya Allah berfirman, ‘Barangsiapa memusuhi wali-Ku, maka Aku umumkan perang kepadanya.’” Imam Syafii menjelaskan, bila para ulama bukanlah wali Allah, maka tidak ada wali Allah di muka bumi.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement