Jumat 03 Jul 2026 18:00 WIB

Tarian Penutup Sang Maestro Luka Modric di Panggung Piala Dunia

Krosia gagal melaju ke babak 16 besar Piala Dunia setelah kalah 1-2 dari Portugal.

Red: Edwin Dwi Putranto

Pemain Kroasia Luka Modric berusaha melewati pemain Portugal dalam pertandingan babak 32 besar Piala Dunia FIFA 2026 di Toronto, Kanada, Kamis (2/7/2026) waktu setempat. Luka Modric gagal membawa Kroasia melaju ke babak selanjutnya setelah dikalahkan Portugal dengan skor 1-2. (FOTO : EPA/EDUARDO LIMA)

Luka Modrić memasuki lapangan dengan ban kapten melingkar di lengannya. Di usia 40 tahun, ia kembali memimpin Kroasia, menyadari bahwa pertandingan melawan Portugal kemungkinan menjadi bab terakhirnya di panggung Piala Dunia. (FOTO : EPA/EDUARDO LIMA)

Seperti yang dilakukannya selama bertahun-tahun, Modrić mengalirkan bola dari lini tengah, mengatur tempo permainan, dan menjadi penghubung setiap serangan Kroasia. Ketenangan serta visi bermainnya tetap menjadi napas permainan Vatreni. (FOTO : EPA/MIGUEL A. LOPES)

Di sisi lain lapangan berdiri Cristiano Ronaldo. Dua sahabat yang pernah menorehkan sejarah bersama Real Madrid kembali berbagi panggung, menghadirkan pertemuan dua ikon yang telah mendominasi sepak bola dunia selama lebih dari satu dekade. (FOTO : EPA/EDUARDO LIMA)

Meski usia tak lagi muda, Modrić terus mengejar bola, membantu pertahanan, dan memimpin rekan-rekannya hingga menit-menit akhir. Semangat juangnya tetap sama seperti ketika pertama kali mengenakan seragam Kroasia dua puluh tahun silam. (FOTO : EPA/EDUARDO LIMA)

Kroasia berusaha mempertahankan harapan untuk melaju lebih jauh. Namun setiap sentuhan Modrić di lapangan terasa seperti potongan terakhir dari perjalanan panjang seorang maestro yang telah menghadirkan begitu banyak kenangan bagi negaranya. (FOTO : EPA/MIGUEL A. LOPES)

Pemain Kroasia Luka Modric berusaha melewati pemain Portugal dalam pertandingan babak 32 besar Piala Dunia FIFA 2026 di Toronto, Kanada, Kamis (2/7/2026) waktu setempat. (FOTO : EPA/MIGUEL A. LOPES)

Peluit panjang mengakhiri perjalanan Kroasia di Piala Dunia 2026. Rekan setim dan lawan menghampiri Modrić, memberikan pelukan dan penghormatan kepada sosok yang selama bertahun-tahun menjadi salah satu gelandang terbaik dunia. (FOTO : EPA/EDUARDO LIMA)

Lebih dari 200 penampilan bersama tim nasional, final Piala Dunia 2018, peringkat ketiga pada 2022, serta penghargaan Golden Ball menjadi bagian dari warisan yang ditinggalkan Modrić untuk sepak bola Kroasia. Namun, yang paling dikenang adalah cara ia memainkan permainan dengan elegan dan rendah hati. (FOTO : EPA/EDUARDO LIMA)

Piala Dunia 2026 mungkin menjadi panggung terakhir Luka Modrić bersama Kroasia, tetapi kisahnya akan terus hidup. Sang maestro meninggalkan lapangan tanpa mengangkat trofi dunia, namun dengan warisan yang jauh melampaui kemenangan: mengubah Kroasia menjadi kekuatan sepak bola dunia dan menginspirasi generasi berikutnya untuk terus bermimpi. (FOTO : EPA/EDUARDO LIMA)

inline

REPUBLIKA.CO.ID, TORONTO -- Selama dua dekade, Luka Modric menjadi denyut permainan Kroasia. Dari debutnya pada 2006 hingga membawa negaranya mencapai final Piala Dunia 2018 dan peringkat ketiga pada 2022, ia menjelma menjadi simbol generasi emas sepak bola Kroasia.

Laga melawan Portugal di babak 32 besar Piala Dunia 2026 menjadi penutup perjalanan sang maestro di panggung terbesar sepak bola dunia—sebuah perpisahan yang sarat penghormatan bagi salah satu gelandang terbaik dalam sejarah.

sumber : EPA
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement