Warga mengangkut galon berisi air yang diambil dari belik di dasar sungai yang mengering di Dusun Ngedat, Desa Ketro, Grobogan, Jawa Tengah, Kamis (13/8/2026). Selama tiga bulan terakhir, warga setempat kesulitan mendapatkan air bersih akibat musim kemarau sehingga terpaksa memanfaatkan air dari belik untuk mencuci, mandi, memenuhi kebutuhan usaha jasa cuci pakaian, dan memberi minum ternak, sedangkan untuk kebutuhan sehari-hari warga harus membeli air. (FOTO : ANTARA FOTO/Aprillio Akbar)
Sejumlah warga mengambil air dari belik yang dibuat di dasar sungai yang mengering di Dusun Ngedat, Desa Ketro, Grobogan, Jawa Tengah, Kamis (13/8/2026). Ketika sungai kehilangan alirannya, lubang kecil atau belik yang masih menyimpan air menjadi tumpuan warga untuk memenuhi sejumlah kebutuhan. (FOTO : ANTARA FOTO/Aprillio Akbar)
Warga mengambil air dari belik yang dibuat di dasar sungai yang mengering. Di tengah kemarau, air yang terkumpul di dasar sungai tidak hanya menjadi kebutuhan rumah tangga, tetapi juga menopang aktivitas ekonomi dan kehidupan sehari-hari warga. (FOTO : ANTARA FOTO/Aprillio Akbar)
Warga mengangkut galon berisi air yang diambil dari belik di dasar sungai yang mengering. Air yang terkumpul perlahan menjadi sumber penting bagi warga setelah kemarau membuat sumber air di sekitar permukiman semakin sulit diperoleh. (FOTO : ANTARA FOTO/Aprillio Akbar)
inline
REPUBLIKA.CO.ID, GROBOGAN -- Musim kemarau yang berlangsung selama tiga bulan membuat warga Dusun Ngedat, Desa Ketro, Grobogan, Jawa Tengah, harus mencari cara untuk mendapatkan air.
Di dasar sungai yang mengering, warga membuat belik, lubang kecil tempat air masih dapat terkumpul. Air dari belik dimanfaatkan untuk mencuci, mandi, memenuhi kebutuhan usaha jasa cuci pakaian, hingga memberi minum ternak. Sementara untuk kebutuhan sehari-hari, warga harus membeli air.
sumber : Antara Foto