Ahad 04 Oct 2026 07:00 WIB

Mengenalkan Betawi Lewat Motif Batik yang Penuh Cerita

Batik Terogong memiliki ciri khas berbagai ikon dan unsur betawi.

Rep: Prayogi/ Red: Edwin Dwi Putranto

Sejumlah batik Betawi di pajang di Workshop Batik Betawi Terogong, Cilandak, Jakarta, Jumat (2/10/2026). Batik yang memiliki ciri khas mengangkat berbagai ikon dan unsur betawi seperti ondel-ondel, Monas, daun semanggi, tanjidor serta Tapak Liman dan lain-lain tersebut sebagai salah satu upaya melestarikan budaya Betawi. (FOTO : Republika/Prayogi)

Seorang perajin menggunakan canting untuk menggoreskan malam pada permukaan kain dalam proses pembuatan batik Betawi Terogong. Setiap tarikan membutuhkan ketelitian karena malam berfungsi menutup bagian kain yang nantinya tetap mempertahankan warna tertentu saat melalui proses pewarnaan. Teknik membatik secara manual tersebut menjadi salah satu keterampilan yang terus dipertahankan para perajin di Terogong. (FOTO : Republika/Prayogi)

Motif ondel-ondel menjadi salah satu unsur yang kerap hadir dalam batik Betawi Terogong. Boneka khas Betawi tersebut dipadukan dengan berbagai elemen lain sehingga menghasilkan corak yang mudah dikenali sebagai bagian dari identitas budaya Jakarta. Selain ondel-ondel, motif Terogong juga mengangkat Monas, Abang None, alat musik tradisional, serta berbagai kesenian Betawi. (FOTO : Republika/Prayogi)

Pekerja mengerjakan kain dengan motif yang terinspirasi dari lingkungan dan kehidupan masyarakat Jakarta. Batik Betawi tidak hanya mengangkat ikon perkotaan, tetapi juga menggunakan unsur tumbuhan dan buah yang memiliki keterkaitan dengan suatu wilayah. Di Terogong, misalnya, motif mengkudu dan cermai dikembangkan untuk mengingatkan kembali pada tanaman yang pernah banyak dijumpai di kawasan tersebut. (FOTO : Republika/Prayogi)

Beragam motif batik Betawi Terogong menunjukkan bagaimana kain tradisional dapat menjadi media untuk mengenalkan sejarah dan kehidupan sebuah kota. Selain Monas dan ondel-ondel, terdapat motif Patung Pancoran, Gerbang Amsterdam, kendaraan tempo dulu, pencak silat, kembang kelapa, hingga salak Condet. Perpaduan tersebut membuat setiap lembar kain membawa potongan kecil tentang Jakarta dan kebudayaan Betawi. (FOTO : Republika/Prayogi)

Proses pewarnaan dalam pembuatan batik Betawi di Workshop Batik Betawi Terogong, Cilandak, Jakarta. Batik Betawi berkembang dengan motif yang tidak hanya mengambil bentuk geometris, tetapi juga menggambarkan cerita rakyat, permainan tradisional, arsitektur, makanan, kesenian, serta berbagai unsur kehidupan masyarakat Betawi. (FOTO : Republika/Prayogi)

Perajin menyelesaikan lembaran batik Betawi yang membawa beragam simbol budaya Jakarta. Bagi Batik Betawi Terogong, pelestarian tidak berhenti pada menjaga teknik membatik, tetapi juga dilakukan melalui pengembangan motif, pemberdayaan masyarakat sekitar, serta pengenalan batik kepada generasi yang lebih muda. Dengan cara itu, kain batik tidak hanya menjadi produk budaya, tetapi juga bagian dari kehidupan dan ekonomi masyarakat. (FOTO : Republika/Prayogi)

Pemilik Batik Betawi Terogong, Siti Laela menunjukkan salah satu motif batik Betawi. Aktivitas membatik di Terogong menjadi bagian dari upaya menghidupkan kembali tradisi yang pernah berkembang di kawasan tersebut. Batik Betawi Terogong didirikan pada 2012 oleh keluarga Betawi yang memiliki perhatian terhadap keberlangsungan budaya lokal. Sebelumnya, tradisi membatik di Terogong sempat mengalami kemunduran seiring perubahan kehidupan dan modernisasi Jakarta. (FOTO : Republika/Prayogi)

inline

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pekerja menyelesaikan pembuatan batik Betawi di Workshop Batik Betawi Terogong, Cilandak, Jakarta, Jumat (2/10/2026). Kain batik tersebut menampilkan berbagai ikon dan unsur khas Betawi, seperti ondel-ondel, Monas, daun semanggi, tanjidor, hingga tapak liman.

Melalui motif yang dekat dengan kehidupan masyarakat Jakarta, batik Betawi menjadi salah satu cara untuk mengenalkan sekaligus menjaga identitas budaya Betawi. Proses pembuatannya juga memperlihatkan bagaimana tradisi batik terus dipertahankan dan dikembangkan agar tetap dikenal di tengah perubahan zaman.

sumber : Republika
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement