Warga melintasi aliran lahar hujan Gunung Semeru di Lumajang, Jawa Timur, Kamis (29/10/2026). Aktivitas warga di sekitar aliran sungai tersebut berlangsung di tengah imbauan kewaspadaan terhadap potensi banjir lahar hujan akibat meningkatnya curah hujan. (FOTO : ANTARA FOTO/Irfan Sumanjaya)
Aktivitas penambang pasir di Lumajang, Jawa Timur, Kamis (29/10/2026). Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Lumajang mengimbau masyarakat untuk tidak beraktivitas dalam radius 500 meter dari tepi sungai di sepanjang Besuk Kobokan karena berpotensi terdampak perluasan awan panas dan aliran lahar hingga jarak 17 kilometer dari puncak. (FOTO : ANTARA FOTO/Irfan Sumanjaya)
Pekerja menyelesaikan pembangunan infrastruktur pengendali lahar di daerah aliran sungai (DAS) Gunung Semeru, Desa Sumberwuluh, Kecamatan Candipuro, Lumajang, Jawa Timur, Kamis (29/10/2026). Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Brantas membangun satu bendung konsolidasi dan enam tanggul pengarah aliran sepanjang 2.500 meter untuk mengendalikan material vulkanik. (FOTO : ANTARA FOTO/Irfan Sumanjaya)
Aliran lahar hujan Gunung Semeru menjadi salah satu kawasan yang perlu diwaspadai saat hujan turun dengan intensitas tinggi. BPBD Lumajang mengimbau masyarakat tidak beraktivitas dalam radius 500 meter dari tepi sungai di sepanjang Besuk Kobokan karena berpotensi terdampak perluasan awan panas dan aliran lahar hingga 17 kilometer dari puncak. (FOTO : ANTARA FOTO/Irfan Sumanjaya)
inline
LUMAJANG -- Ancaman lahar hujan Gunung Semeru kembali menjadi perhatian seiring meningkatnya curah hujan di wilayah Lumajang, Jawa Timur, dalam lima hari terakhir. Warga masih beraktivitas di sekitar aliran lahar, sementara potensi banjir lahar hujan dan perluasan awan panas mengharuskan masyarakat lebih waspada.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Lumajang mengimbau warga tidak beraktivitas dalam radius 500 meter dari tepi sungai di sepanjang Besuk Kobokan. Potensi bahaya aliran lahar dan awan panas dilaporkan dapat menjangkau hingga 17 kilometer dari puncak gunung.
Di sisi lain, upaya mengurangi risiko bencana terus dilakukan melalui pembangunan infrastruktur pengendali lahar di daerah aliran sungai (DAS) Semeru, Desa Sumberwuluh, Kecamatan Candipuro. Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Brantas membangun satu bendung konsolidasi dan enam tanggul pengarah aliran sepanjang 2.500 meter untuk mengendalikan material vulkanik dan mengurangi aliran debris. Hingga awal Oktober 2026, progres fisik pembangunan mencapai 25,2 persen. Infrastruktur ini diharapkan dapat membantu mengurangi risiko aliran material vulkanik, meski kewaspadaan masyarakat tetap diperlukan, terutama saat hujan deras.
sumber : Antara Foto