Jumat 30 Oct 2026 20:09 WIB

Arak Replika Monster Godzilla El Nino, Koalisi Orang Muda Suarakan Keadilan Iklim

Aksi tersebut menjadi simbol kekhawatiran generasi muda terhadap krisis iklim.

Rep: Prayogi/ Red: Edwin Dwi Putranto

Sejumlah pegiat lingkungan menggelar aksi parade monster iklim Godzilla El Nino di depan Kedutaan Besar Amerika Serikat, Jakarta, Jumat (30/10/2026). Aksi tersebut menjadi simbol kekhawatiran generasi muda terhadap krisis iklim dan berbagai bencana ekologis yang dinilai semakin mengancam kehidupan masyarakat. (FOTO : Republika/Prayogi)

Massa aksi menyampaikan tuntutan melalui pembacaan Manifesto Keadilan Iklim Antargenerasi. Mereka mendesak pemerintah mengubah arah pembangunan agar lebih mengutamakan keselamatan masyarakat, perlindungan lingkungan, dan kepentingan generasi mendatang. (FOTO : Republika/Prayogi)

Dalam manifesto tersebut, koalisi menilai berbagai persoalan lingkungan, seperti kebakaran hutan dan lahan, banjir bandang, kekeringan, hingga meningkatnya biaya hidup, tidak bisa hanya dipandang sebagai dampak fenomena alam. Mereka menyoroti kebijakan pembangunan dan aktivitas industri yang dinilai turut memperburuk krisis ekologis. (FOTO : Republika/Prayogi)

Salah satu tuntutan utama yang disampaikan adalah mengakhiri ketergantungan terhadap energi fosil. Pemerintah didesak mempercepat transisi menuju energi bersih dan mengurangi penggunaan batu bara. Namun, proses peralihan energi tersebut juga harus memperhatikan hak asasi manusia serta tidak mengorbankan ruang hidup masyarakat adat dan komunitas lokal. (FOTO : Republika/Prayogi)

Koalisi Orang Muda menilai transisi energi tidak cukup hanya mengganti sumber energi fosil dengan energi terbarukan. Prosesnya harus memastikan masyarakat di sekitar proyek mendapatkan perlindungan dan manfaat, bukan justru menghadapi persoalan baru akibat penguasaan lahan dan kerusakan lingkungan. (FOTO : Republika/Prayogi)

Selain sektor energi, massa aksi menyoroti arah penggunaan anggaran negara. Mereka meminta pemerintah memperbesar dukungan terhadap pengembangan energi terbarukan, pendidikan, kesehatan, dan pemulihan lingkungan. (FOTO : Republika/Prayogi)

Koalisi Orang Muda untuk Keadilan Iklim juga menekankan pentingnya melibatkan kelompok masyarakat yang paling terdampak krisis iklim. Pekerja informal, masyarakat adat, perempuan, warga kampung kota, komunitas lokal, dan kelompok rentan dinilai perlu mendapatkan ruang lebih besar dalam proses pengambilan keputusan. (FOTO : Republika/Prayogi)

Bagi para peserta aksi, krisis iklim bukan sekadar persoalan lingkungan, melainkan juga menyangkut keadilan antargenerasi. Dampaknya dirasakan masyarakat saat ini, sementara generasi muda menghadapi risiko mewarisi persoalan yang lebih besar pada masa mendatang. (FOTO : Republika/Prayogi)

inline

JAKARTA -- Replika monster Godzilla El Nino setinggi lima meter diarak dalam aksi Koalisi Orang Muda untuk Keadilan Iklim dari Kedutaan Besar Amerika Serikat menuju kawasan Patung Kuda, Jakarta, Jumat (30/10/2026). Aksi tersebut menjadi simbol kekhawatiran generasi muda terhadap krisis iklim dan berbagai bencana ekologis yang dinilai semakin mengancam kehidupan masyarakat.

Massa aksi menyampaikan tuntutan melalui pembacaan Manifesto Keadilan Iklim Antargenerasi. Mereka mendesak pemerintah mengubah arah pembangunan agar lebih mengutamakan keselamatan masyarakat, perlindungan lingkungan, dan kepentingan generasi mendatang.

Dalam manifesto tersebut, koalisi menilai berbagai persoalan lingkungan, seperti kebakaran hutan dan lahan, banjir bandang, kekeringan, hingga meningkatnya biaya hidup, tidak bisa hanya dipandang sebagai dampak fenomena alam.

Mereka menyoroti kebijakan pembangunan dan aktivitas industri yang dinilai turut memperburuk krisis ekologis. Salah satu tuntutan utama yang disampaikan adalah mengakhiri ketergantungan terhadap energi fosil. Pemerintah didesak mempercepat transisi menuju energi bersih dan mengurangi penggunaan batu bara. Namun, proses peralihan energi tersebut juga harus memperhatikan hak asasi manusia serta tidak mengorbankan ruang hidup masyarakat adat dan komunitas lokal.

Koalisi Orang Muda menilai transisi energi tidak cukup hanya mengganti sumber energi fosil dengan energi terbarukan. Prosesnya harus memastikan masyarakat di sekitar proyek mendapatkan perlindungan dan manfaat, bukan justru menghadapi persoalan baru akibat penguasaan lahan dan kerusakan lingkungan.

Selain sektor energi, massa aksi menyoroti arah penggunaan anggaran negara. Mereka meminta pemerintah memperbesar dukungan terhadap pengembangan energi terbarukan, pendidikan, kesehatan, dan pemulihan lingkungan.

Koalisi Orang Muda untuk Keadilan Iklim juga menekankan pentingnya melibatkan kelompok masyarakat yang paling terdampak krisis iklim. Pekerja informal, masyarakat adat, perempuan, warga kampung kota, komunitas lokal, dan kelompok rentan dinilai perlu mendapatkan ruang lebih besar dalam proses pengambilan keputusan.

Bagi para peserta aksi, krisis iklim bukan sekadar persoalan lingkungan, melainkan juga menyangkut keadilan antargenerasi. Dampaknya dirasakan masyarakat saat ini, sementara generasi muda menghadapi risiko mewarisi persoalan yang lebih besar pada masa mendatang.

sumber : Republika
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
Advertisement