Seorang warga mengangkut meja di pondok pesantren yang hancur akibat bencana alam di Kampung Ciparempeng, Desa Cileuksa, Sukajaya, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Kamis (13/2). (FOTO : Republika/Putra M. Akbar)
Pimpinan Pondok Pesantren Riadul Mubtadiin Ustaz Ujang Edo (kanan) menerima bantuan dari Republika di Kampung Ciparempeng, Desa Cileuksa, Sukajaya, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Kamis (13/2). (FOTO : Republika/Putra M. Akbar)
Pimpinan Pondok Pesantren Riadul Mubtadiin Ustaz Ujang Edo mengangkut meja di pondok pesantren yang hancur akibat bencana alam di Kampung Ciparempeng, Desa Cileuksa, Sukajaya, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Kamis (13/2). (FOTO : Republika/Putra M. Akbar)
Direktur Operasional Republika Arys Hilman Nugraha (tengah) bersama Pondok Pesantren Riadul Mubtadiin Ustaz Ujang Edo (kanan) melihat kondisi pondok pesantren yang hancur di Kampung Ciparempeng, Desa Cileuksa, Sukajaya, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Kamis (13/2). (FOTO : Republika/Putra M. Akbar)
Pimpinan Pondok Pesantren Riadul Mubtadiin Ustaz Ujang Edo melintas di samping pondok pesantren yang hancur akibat bencana alam di Kampung Ciparempeng, Desa Cileuksa, Sukajaya, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Kamis (13/2). (FOTO : Republika/Putra M. Akbar)
inline
REPUBLIKA.CO.ID, BOGOR -- Longsor dan banjir bandang yang melanda Kabupaten Bogor awal tahun lalu masih meninggalkan nestapa bagi warganya. Tidak terkecuali pesantren Riadul Mubtadiin yang berada di Kampung Ciparempeng, Desa Cileuksa, Sukajaya, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Kamis (13/2).
Pimpinan Pesantren Riadul Mubtadiin, Ustaz Ujang Edo menceritakan, ada sebanyak 67 santri yang rutin belajar mengaji. Di antaranya terdapat 37 santri yang mondok di pesantren. Sekarang mereka semua pulang ke rumah masing-masing karena tidak bisa mondok di pesantren lagi.
Kondisi bangunan pesantren terancam longsor dan dindingnya jebol akibat longsor. Kini santri banyak yang tidak bisa melaksanakan kegiatan belajar. Hanya sekitar sepuluh santri yang masih ikut belajar di rumah warga yang lokasinya cukup aman.
"Santri yang lain pulang ke rumah masing-masing, mereka kalau hujan takut terjadi longsor lagi, jadi mereka belum semuanya bisa ikut kegiatan mengaji lagi," ujar Ustaz Ujang.
sumber : Republika