Selasa 13 Oct 2026 09:00 WIB

Sila, Bocah Gaza yang Berjuang Melangkah dengan Kaki Palsu

Sila kehilangan kaki kanannya akibat serangan militer Israel.

Red: Edwin Dwi Putranto

Sila Rifaat Abu Aqlein (6) menjalani pemeriksaan rutin di pusat prostetik di Kota Gaza, Palestina, Senin (12/10/2026). Bocah tersebut kehilangan kaki kanannya akibat cedera di kawasan Zeitoun pada 3 Desember 2023. Pemeriksaan rutin menjadi bagian dari upaya memantau kondisi kaki palsu dan mendukung proses pemulihannya. (FOTO : EPA/MOHAMMED SABER)

Sila Rifaat Abu Aqlein menjalani perawatan di pusat prostetik di Kota Gaza, Palestina. Setelah kehilangan kaki kanan akibat serangan militer Israel, ia harus beradaptasi dengan kondisi fisiknya sejak usia dini. Penggunaan kaki palsu menjadi salah satu bagian dari upayanya untuk kembali menjalani aktivitas sehari-hari. (FOTO : EPA/MOHAMMED SABER)

Sila mengikuti pemeriksaan kaki palsu di sebuah pusat prostetik di Kota Gaza, Palestina. Bagi anak seusianya, proses pemulihan membutuhkan pendampingan dan penyesuaian secara berkala seiring pertumbuhan tubuh. Perawatan yang berkelanjutan diperlukan untuk membantu anak penyandang amputasi beradaptasi dan menjalani aktivitas sesuai kemampuannya. (FOTO : EPA/MOHAMMED SABER)

Sila kehilangan kaki kanannya setelah mengalami cedera di kawasan Zeitoun pada 3 Desember 2023. Serangan militer Israel juga merenggut kedua orang tua dan dua saudara perempuannya. Kehilangan tersebut mengubah kehidupan bocah yang kini berusia enam tahun itu, ketika ia masih seharusnya menghabiskan masa kecil bersama keluarga. (FOTO : EPA/MOHAMMED SABER)

Pemeriksaan kaki palsu menjadi bagian dari perjalanan pemulihan Sila Rifaat Abu Aqlein di Kota Gaza, Palestina. Bagi anak yang kehilangan kaki akibat konflik, alat bantu tersebut dapat mendukung mobilitas dan kemandirian apabila sesuai dengan kondisi fisik serta kebutuhan penggunanya. Penyesuaian dan rehabilitasi tetap diperlukan agar kaki palsu dapat digunakan dengan tepat. (FOTO : EPA/MOHAMMED SABER)

Sila menjalani pemeriksaan rutin di pusat prostetik di Kota Gaza, Palestina. Kisahnya menggambarkan kebutuhan jangka panjang anak-anak yang mengalami amputasi akibat konflik, mulai dari akses terhadap alat bantu, rehabilitasi, hingga pendampingan keluarga. Pemulihan tidak berhenti setelah luka fisik ditangani, tetapi berlanjut melalui perawatan dan dukungan untuk menjalani kehidupan sehari-hari. (FOTO : EPA/MOHAMMED SABER)

Sila kini tinggal bersama bibinya dari pihak ibu yang merawatnya setelah kedua orang tua dan dua saudara perempuannya meninggal dunia akibat serangan militer Israel. Sang bibi menjadi keluarga yang mendampinginya dalam menjalani kehidupan sehari-hari, termasuk ketika Sila membutuhkan perawatan untuk kaki kanannya yang diamputasi. (FOTO : EPA/MOHAMMED SABER)

Di usia enam tahun, Sila Rifaat Abu Aqlein masih memiliki perjalanan panjang untuk tumbuh dan belajar. Setelah kehilangan kaki kanan serta kedua orang tua dan dua saudara perempuannya akibat serangan militer Israel, ia kini menjalani kehidupan bersama bibinya. Pemeriksaan kaki palsu menjadi salah satu bagian dari upaya pemulihannya, sekaligus pengingat bahwa anak-anak korban perang membutuhkan perlindungan, perawatan, pendidikan, dan kesempatan untuk menjalani masa depan. (FOTO : EPA/MOHAMMED SABER)

inline

REPUBLIKA.CO.ID, GAZA -- Di usia enam tahun, Sila Rifaat Abu Aqlein harus belajar menjalani hidup dengan satu kaki. Bocah asal Gaza, Palestina, itu kehilangan kaki kanannya akibat serangan di kawasan Zeitoun pada 3 Desember 2023. Sejak saat itu, langkah-langkah kecil yang seharusnya mengantarnya bermain dan berlari bersama teman sebaya menjadi bagian dari perjuangan panjang untuk pulih. Pada Senin (12/10/2026), Sila kembali menjalani pemeriksaan rutin di pusat prostetik di Kota Gaza untuk memantau kondisi kaki palsunya.

Bukan hanya kehilangan kaki, Sila juga harus menerima kenyataan bahwa kedua orang tua dan dua saudara perempuannya telah tiada akibat serangan militer Israel. Kini, ia tinggal bersama bibinya dari pihak ibu yang merawatnya setelah tragedi itu merenggut seluruh keluarga intinya. Di tengah kehilangan yang begitu besar pada usia yang masih belia, perawatan kaki palsu menjadi salah satu bagian dari upaya Sila untuk kembali menjalani kehidupan sehari-hari. Perjalanannya masih panjang, tetapi setiap tahap pemulihan memberinya kesempatan untuk terus tumbuh seperti anak-anak seusianya.

sumber : EPA
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement