Selasa 27 Oct 2026 09:05 WIB

Potret Kehidupan Warga Palangka Raya di Tengah Asap Karhutla

Warga Palangka Raya harus menjalani keseharian di tengah kepungan kabut asap karhutla.

Red: Edwin Dwi Putranto

Hera bersama anaknya berpose di depan rumah mereka, sementara asap tebal akibat kebakaran hutan dan lahan menyelimuti lingkungan tempat tinggal mereka di Palangka Raya, Jumat (23/10/2026). Sejak akhir Agustus 2026, warga Palangka Raya harus menjalani keseharian di tengah kepungan asap kebakaran hutan dan lahan. Selama hampir dua bulan, asap tak hanya menyelimuti permukiman, tetapi juga mengganggu aktivitas masyarakat hingga kegiatan belajar anak-anak harus berulang kali dialihkan ke rumah. (FOTO : REINA/AFP)

Yuliadi bersama keluarganya berpose di depan rumah mereka di Palangka Raya. Langit yang menguning kemerahan menjadi latar kehidupan warga di Palangka Raya, Kalimantan Tengah. Asap menyelimuti pepohonan, halaman rumah, hingga bangunan tempat mereka beraktivitas. Di tengah udara yang tampak keruh, warga tetap menjalani keseharian, mengurus keluarga, dan berusaha melanjutkan hidup seperti biasa. (FOTO : REINA/AFP)

Yuni Kartika berpose di depan rumahnya, di Palangka Raya. Bagi warga yang tinggal di kawasan terdampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla), asap bukan sekadar pemandangan di kejauhan. Kabut itu hadir di sekitar tempat tinggal, menyelimuti lingkungan yang mereka kenal, sekaligus menjadi kondisi yang harus dihadapi dalam keseharian. (FOTO : REINA/AFP)

Sutopo bersama keluarganya berpose di depan rumah mereka, di Palangka Raya. Aktivitas sehari-hari tidak bisa berhenti ketika asap datang. Warga tetap memiliki rumah yang harus diurus, keluarga yang perlu diperhatikan, serta kebutuhan hidup yang harus dipenuhi. Mereka berada dalam situasi ketika lingkungan tempat tinggal berubah akibat asap, sementara kehidupan terus menuntut untuk berjalan. (FOTO : REINA/AFP)

Wahyu berpose di depan rumahnya yang diselimuti kabut asap karhutla. Di Palangka Raya, kehidupan tetap terlihat di antara pepohonan, rumah, dan jalan yang diselimuti kabut. Di balik aktivitas yang terus berlangsung, ada kebutuhan sederhana yang tidak boleh diabaikan: udara yang lebih bersih, lingkungan yang aman, dan kesempatan bagi setiap keluarga untuk menjalani hari tanpa harus terus beradaptasi dengan asap. (FOTO : REINA/AFP)

Nanik Tri Aryani bersama keluarganya berpose di depan rumah mereka di Palangka Raya. Asap yang menyelimuti permukiman dapat menimbulkan kekhawatiran, terutama bagi keluarga yang memiliki anak-anak. Paparan asap karhutla juga berisiko mengganggu kesehatan, khususnya sistem pernapasan. Anak-anak, lansia, dan orang dengan kondisi kesehatan tertentu termasuk kelompok yang perlu mendapat perhatian lebih. (FOTO : REINA/AFP)

inline

PALANGKA RAYA -- Langit yang menguning kemerahan menjadi latar kehidupan warga di Palangka Raya, Kalimantan Tengah. Asap menyelimuti pepohonan, halaman rumah, hingga bangunan tempat mereka beraktivitas. Di tengah udara yang tampak keruh, warga tetap menjalani keseharian, mengurus keluarga, dan berusaha melanjutkan hidup seperti biasa.

Bagi warga yang tinggal di kawasan terdampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla), asap bukan sekadar pemandangan di kejauhan. Kabut itu hadir di sekitar tempat tinggal, menyelimuti lingkungan yang mereka kenal, sekaligus menjadi kondisi yang harus dihadapi dalam keseharian.

Aktivitas sehari-hari tidak bisa berhenti ketika asap datang. Warga tetap memiliki rumah yang harus diurus, keluarga yang perlu diperhatikan, serta kebutuhan hidup yang harus dipenuhi. Mereka berada dalam situasi ketika lingkungan tempat tinggal berubah akibat asap, sementara kehidupan terus menuntut untuk berjalan.

Asap yang menyelimuti permukiman dapat menimbulkan kekhawatiran, terutama bagi keluarga yang memiliki anak-anak. Paparan asap karhutla juga berisiko mengganggu kesehatan, khususnya sistem pernapasan. Anak-anak, lansia, dan orang dengan kondisi kesehatan tertentu termasuk kelompok yang perlu mendapat perhatian lebih.

Di Palangka Raya, kehidupan tetap terlihat di antara pepohonan, rumah, dan jalan yang diselimuti kabut. Di balik aktivitas yang terus berlangsung, ada kebutuhan sederhana yang tidak boleh diabaikan: udara yang lebih bersih, lingkungan yang aman, dan kesempatan bagi setiap keluarga untuk menjalani hari tanpa harus terus beradaptasi dengan asap.

sumber : AFP
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement